Sentuhan Taktik Spalletti dengan McKennie Bangkitkan Juventus: “Belum Pernah Terlihat dalam 20 Tahun”

Kebangkitan Juventus dalam beberapa pekan terakhir tidak terjadi begitu saja. Di balik rangkaian hasil impresif, dengan enam kemenangan dari tujuh laga terakhir, termasuk melawan rival langsung seperti Bologna dan Roma, terselip sentuhan taktik cerdas Luciano Spalletti yang kini mulai mendapat pengakuan luas.

Salah satu kunci perubahan itu adalah peran baru Weston McKennie, yang di bawah arahan Spalletti menjelma menjadi figur sentral dalam dinamika permainan Juventus.

Mantan pelatih Inter dan Bologna, Andrea Stramaccioni, bahkan menyebut inovasi ini sebagai sesuatu yang “belum pernah terlihat dalam 20 tahun terakhir.”

McKennie, Kunci Taktik Inovatif Spalletti

Dalam analisisnya kepada La Gazzetta dello Sport, Stramaccioni menyoroti bagaimana Spalletti memaksimalkan fleksibilitas McKennie secara brilian.

“Itu inovatif sekaligus menentukan. Sesuatu yang belum pernah terlihat dalam 20 tahun,” ujar Stramaccioni.

Menurutnya, Spalletti menyempurnakan ide tersebut saat Juventus menghadapi Roma.

McKennie diposisikan dengan peran hibrida: pemain sayap saat bertahan, namun berubah menjadi penyerang kedua ketika menyerang.

Peran ini terlihat jelas dalam proses gol Loïs Openda, yang lahir dari pergerakan McKennie masuk ke kotak penalti.

Menariknya, skema ini bukan eksperimen mendadak. Spalletti disebut telah mengujinya lebih awal, bahkan sejak derby melawan Torino.

Peran Ganda: Sayap Saat Bertahan, Penyerang Saat Menyerang

Stramaccioni menjelaskan detail mekanisme tersebut:

“Saat melawan Roma, ia menyempurnakan sebuah ide brilian: penggunaan McKennie, yang piawai beralih dari peran pemain sayap (ketika tidak menguasai bola) menjadi penyerang kedua yang sesungguhnya. Gol Openda lahir dari pergerakan pemain Amerika itu masuk ke kotak penalti, sebuah solusi yang sebenarnya sudah diuji Luciano sejak derby melawan Torino,”

“Ketika Juventus tidak menguasai bola, McKennie beroperasi melebar, berada di belakang Conceiçao, dan bertugas mengawal pemain lawan paling ofensif di sisi tersebut—Cambiaghi saat melawan Bologna, atau Wesley pada hari Sabtu. Saat Juventus menguasai bola, gelandang asal Texas itu melakukan pergerakan ke tengah dan berubah menjadi opsi penyerang tambahan di belakang striker utama, menempati posisi tajam,” lanjut mantan pelatih Bologna tersebut.

Peran dinamis ini membuat Juventus lebih cair, sulit diprediksi, dan jauh lebih berbahaya dalam transisi.

Efek Domino: Ruang Lebar dan Solusi Masalah Lama

Inovasi Spalletti tak hanya menghidupkan McKennie, tetapi juga memberi efek berantai ke struktur tim.

“Ini memberi keuntungan lain,” lanjut Stramaccioni.

“Conceição atau Zhegrova bisa tetap melebar dan berhadapan satu lawan satu di sayap, sementara Kalulu selalu siap memberi perlindungan di belakang,”

Dengan skema ini, Juventus mampu memaksimalkan kualitas pemain sayap, sekaligus menjaga keseimbangan defensif.

Stramaccioni bahkan menilai Spalletti telah memecahkan salah satu masalah taktik yang sebelumnya ada di era Igor Tudor.

“Tudor menggunakan Kalulu sebagai wing-back kanan. Spalletti tetap memakai sistem 3-4-2-1, tapi ia sudah menambahkan banyak idenya sendiri.”

Juventus Menemukan Identitas Baru

Perubahan peran McKennie mencerminkan sesuatu yang lebih besar: Juventus mulai menemukan identitas taktis yang jelas. Bukan hanya solid secara struktur, tetapi juga fleksibel dan kreatif dalam menyerang.

Dengan sistem yang semakin matang dan pemain yang memahami perannya secara spesifik, Juventus kini tampil lebih efisien, baik dalam mengontrol pertandingan maupun mematikan lawan di momen krusial.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*