Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, menegaskan pentingnya waktu istirahat bagi para pemainnya menjelang periode tersibuk musim ini.
Ia juga menuntut adanya reaksi positif dari skuad Bianconeri setelah hasil mengecewakan berupa imbang tanpa gol melawan AS Monaco di ajang Liga Champions.
Hasil 0-0 tersebut membuat Juventus finis di posisi ke-13 klasemen fase liga dan harus menjalani babak play-off melawan Galatasaray.
Situasi ini semakin memperpadat jadwal pertandingan mereka di berbagai kompetisi.
Jadwal Padat Jadi Tantangan Utama Juventus
Setelah memastikan tiket ke babak play-off Liga Champions, Juventus kini menghadapi jadwal yang sangat padat. Mereka juga harus melakoni laga tandang ke markas Parma di pekan ke-23 Serie A 2025-26, Senin (2/2/2026) pukul 02.45 WIB.
Kondisi ini membuat manajemen fisik pemain menjadi perhatian utama Spalletti. Ia menilai bahwa pendekatan latihan harus diubah demi menjaga performa tim.
“Kami akan menghadapi periode dengan banyak pertandingan berdekatan dan harus menemukan solusi. Solusinya adalah memberi lebih banyak waktu istirahat,” ujar Spalletti.
Konsep ‘Invisible Training’ ala Spalletti
Dalam konferensi pers, Spalletti juga memperkenalkan konsep unik yang ia sebut sebagai “invisible training”.
Menurutnya, metode ini bukan latihan fisik di lapangan, melainkan istirahat total di rumah yang disertai fokus mental terhadap pertandingan berikutnya.
“Invisible training adalah saat kami tidak melihat pemain. Mereka di rumah, beristirahat, tapi tetap mempersiapkan diri secara mental,” jelasnya.
Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara bermain, berlatih, dan memulihkan kondisi tubuh.
“Ketika Anda bermain begitu banyak, Anda harus menemukan keseimbangan yang tepat. Bermain banyak, istirahat banyak, berlatih banyak,”
Evaluasi Hasil Imbang Kontra Monaco
Spalletti tidak menutupi kekecewaannya terhadap performa Juventus saat menghadapi Monaco. Dalam laga tersebut, Bianconeri bahkan gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran.
Ia menilai timnya kehilangan ritme permainan dan tampil terlalu pasif.
“Kami tidak bermain dengan baik. Saya mengharapkan reaksi setelah pertandingan itu karena kami tidak menemukan ritme normal,” tegasnya.
Spalletti juga menyoroti pentingnya adaptasi dalam situasi pertandingan yang dinamis, termasuk saat tim harus mengorbankan penguasaan bola demi mencetak gol.
“Saya akan mengubah istilah ‘dalam penguasaan bola’ dan ‘tanpa penguasaan bola’. Ada faktor-faktor yang terus berubah dan ada periode ‘kacau’ di mana Anda harus tahu bagaimana beradaptasi. Saya ingin melihat tim melakukan itu lagi, meski mungkin harus mengorbankan sedikit penguasaan bola demi mencetak gol. Namun, pada laga kemarin malam, permainan kami terlalu ‘normal’ atau terlalu tenang,”
Optimisme di Tengah Kelelahan Pemain
Meski menghadapi risiko kelelahan, Spalletti tetap optimistis bahwa banyaknya pertandingan justru bisa menjadi modal berharga bagi Juventus.
Menurutnya, pengalaman bermain di berbagai level kompetisi akan memperkaya mental dan kualitas skuad.
“Kami mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru yang akan berguna di masa depan,” katanya.
Respons Soal Bursa Transfer
Terkait aktivitas transfer, Spalletti memilih bersikap realistis. Ia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada manajemen klub.
“Bursa transfer ada di tangan klub. Jika ada cara untuk membantu tim, kita lihat saja di jam-jam terakhir.”

Leave a Reply