Tersingkirnya Juventus di ajang Coppa Italia 2025-26 kembali membuka tabir masalah besar yang selama ini berusaha ditutupi.
Bukan sekadar soal taktik atau mental bertanding, melainkan satu kenyataan pahit: Juventus kekurangan striker murni.
Dalam laga penting kontra Atalanta di babak Perempat Final yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan, Bianconeri justru tampil tumpul.
Minimnya daya gedor menjadi sorotan utama, sekaligus memperkuat kritik terhadap perencanaan skuad di era Luciano Spalletti.
Pernyataan Chiellini yang Kini Terasa Hambar
Sebelum laga di New Balance Arena, Giorgio Chiellini sempat menenangkan publik dengan pernyataannya:
“Kami sudah menjajaki banyak opsi untuk menutupi absennya Dusan. Dia memang sudah kembali dan kondisinya baik, tapi secara realistis bulan ini kami belum bisa memainkannya penuh.” Ujar Chiellini.
Ucapan tersebut seolah memberi kesan bahwa Juventus masih dalam kondisi aman. Namun kenyataannya, pernyataan itu justru menjadi bumerang.
Chiellini secara tidak langsung mengakui bahwa satu-satunya striker murni Juventus, Dusan Vlahovic belum bisa diandalkan sepenuhnya. Di balik optimisme soal perkembangan tim, tersembunyi fakta bahwa lini depan rapuh tanpa sosok target man sejati.
Spalletti dan “Permainan” Menutup Kekurangan
Luciano Spalletti pun mencoba meredam kritik. Dalam konferensi pers, ia menolak terjebak dalam apa yang disebutnya sebagai “giochino” atau permainan mencari kambing hitam.
Namun di lapangan, realita berbicara lain.
Tanpa Vlahovic, Juventus tidak memiliki penyerang sentral yang mampu:
- Menahan bola,
- Membuka ruang,
- Menjadi target crossing,
- Menjadi pembeda di kotak penalti.
Randal Kolo Muani, yang sempat diincar pada Januari, gagal didatangkan. Alternatif sepadan pun tak tersedia. Spalletti terpaksa mengandalkan solusi “kreatif” yang justru membuat serangan Juventus kehilangan identitas.
Juventus Kehilangan DNA di Lini Serang
Sepanjang sejarahnya, Juventus selalu memiliki sosok striker andalan:
- Del Piero
- Trezeguet
- Higuain
- Ronaldo
Kini, tradisi itu terputus.
Tanpa striker tajam, permainan Juventus menjadi monoton. Dominasi penguasaan bola tak berujung gol. Peluang demi peluang terbuang sia-sia.
Statistik mungkin masih terlihat kompetitif, tetapi efektivitas menjadi masalah utama.
“Juventus Kini Telanjang” di Tengah Persaingan Ketat
Kekalahan di Coppa Italia menjadi simbol bahwa Juventus sudah tidak bisa lagi bersembunyi. Pada Februari ini, target realistis mereka tersisa satu: finis empat besar Serie A demi tiket Liga Champions.
Tak ada lagi ilusi soal perburuan gelar. Tak ada lagi mimpi besar. Yang tersisa hanyalah perjuangan bertahan di Liga Champions.
Dalam filosofi sepak bola klasik, sebuah tim hanya benar-benar membutuhkan dua pemain kelas dunia untuk bertahan hidup:
- Kiper hebat
- Striker tajam
Tanpa salah satunya, segalanya runtuh.

Leave a Reply