Krisis sedang menyelimuti Juventus. Dalam lima laga terakhir di semua kompetisi, Si Nyonya Tua menelan empat kekalahan dan hanya sekali meraih hasil imbang. Situasi ini memicu kekhawatiran besar, baik di ruang ganti maupun di kalangan tifosi.
Gelandang muda mereka, Khephren Thuram, angkat suara dan mengirim peringatan keras kepada rekan-rekannya: Juventus tidak boleh mempertaruhkan segalanya hanya karena satu periode buruk.
Juventus Terperosok: Serie A, Liga Champions, Coppa Italia
Kekalahan terbaru datang di pekan ke-26 Serie A saat Juventus dipermalukan 0-2 di kandang sendiri oleh Como. Gol dari Mergim Vojvoda dan Maxence Caqueret lahir dari kesalahan elementer lini belakang Bianconeri.
Ini menjadi kekalahan kandang pertama Juventus di Serie A sejak Maret 2025, sebuah catatan yang menunjukkan betapa tajamnya penurunan performa mereka dalam beberapa pekan terakhir.
Tak hanya di liga domestik, Juventus juga tersandung di Eropa. Dalam laga play-off UEFA Champions League, mereka dihajar 5-2 oleh Galatasaray di Istanbul, laga yang semakin mempertegas rapuhnya mental tim saat berada di bawah tekanan.
Thuram: “Kami Tidak Boleh Membuang Semuanya”
Dalam konferensi pers pasca laga, Thuram tak menutupi kekecewaannya.
“Kami sangat marah setelah pertandingan ini, karena itu laga penting dan kami kalah. Kami harus langsung fokus ke pertandingan berikutnya dan meraih kemenangan,” ujar Thuram.
Menurutnya, Juventus tidak sedang kehilangan arah atau “mematikan mesin”. Namun ia menegaskan bahwa tim harus segera bereaksi sebelum situasi menjadi tidak terkendali.
“Tidak benar kami sudah menyerah. Kami tidak boleh mengambil risiko kehilangan segalanya,”
Pernyataan ini menegaskan bahwa ruang ganti Juventus masih menyimpan keyakinan. Namun keyakinan saja tidak cukup, dibutuhkan konsistensi, disiplin taktik, dan mental baja untuk bangkit dari situasi seperti ini.
Tekanan Mental dan Kartu Merah yang Mengubah Segalanya
Salah satu momen krusial yang memperlihatkan rapuhnya Juventus adalah saat kartu merah yang diterima Juan Cabal di Istanbul. Sejak itu, tim terlihat kehilangan keseimbangan dan konsentrasi, hingga akhirnya dihantam lima gol oleh Galatasaray.
Tekanan semakin memuncak ketika para tifosi mencemooh tim usai kekalahan dari Como. Siulan keras dan teriakan frustrasi dari Curva menjadi bukti bahwa kesabaran fans mulai menipis.
Namun Thuram memilih bersikap realistis.
“Kami harus terus bekerja dan memperbaiki kesalahan. Kami harus berkembang, baik secara individu maupun sebagai tim.”

Leave a Reply