Bek Juventus, Pierre Kalulu, angkat bicara jelang laga krusial melawan AS Roma di pekan ke-27 Serie A 2025-26 dalam perebutan posisi empat besar.
Selain membahas pentingnya duel tersebut, Kalulu juga menyentil isu masa depan pelatih Luciano Spalletti serta polemik kartu merah kontroversial yang melibatkannya dan bek Inter, Alessandro Bastoni.
Dalam konferensi persnya, Kalulu mengaku bangga dengan respons tim meski harus tersingkir dari Liga Champions oleh Galatasaray.
Juventus memang berhasil memaksakan perlawanan sengit di leg kedua, namun agregat tak cukup untuk membawa mereka lolos.
Juventus di Titik Penentuan Musim
Kekalahan di Eropa dan tersingkir dari Coppa Italia membuat Juventus kini hanya memiliki satu target realistis: finis di empat besar Serie A demi tiket Liga Champions musim depan. Duel melawan Roma pun menjadi laga bernilai enam poin.
Kalulu menegaskan bahwa laga ini memang penting, tetapi bukan penentu tunggal musim.
“Kami sadar ini pertandingan besar, tetapi masih ada 11 laga setelah ini. Namun, karena ini head-to-head, nilainya terasa lebih besar,” ujar sang bek.
Optimisme mulai tumbuh di ruang ganti Bianconeri, terutama setelah performa penuh determinasi di leg kedua kontra Galatasaray. Meski tersingkir, karakter dan mentalitas tim dinilai menunjukkan perkembangan signifikan.
“Kami percaya pada diri kami sendiri dan jika kami menjalankan tugas kami, maka semuanya akan berjalan dengan baik,”
Harapan Kalulu untuk Spalletti
Di tengah rumor soal masa depan kursi kepelatihan, Kalulu secara terbuka menyatakan harapannya agar Spalletti tetap bertahan.
“Kontrak adalah urusan klub. Tapi kami merasa nyaman, punya ide yang jelas, dan suka dengan cara kami bermain. Tentu kami akan senang jika dia bertahan,”
Pernyataan ini memperlihatkan dukungan internal skuad terhadap sang pelatih. Stabilitas proyek dinilai krusial dalam proses rebuilding yang sedang dijalani Juventus.
Polemik Kartu Merah dan Respons Bastoni
Sorotan lain tertuju pada insiden kartu merah Kalulu saat menghadapi Inter. Banyak pihak menilai keputusan wasit terlalu keras, apalagi Bastoni sempat dianggap melakukan simulasi untuk memancing kartu kedua.
Meski Bastoni sempat menyampaikan permintaan maaf secara publik, Kalulu mengungkapkan bahwa tidak ada komunikasi langsung di antara keduanya.
“Tidak, kami tidak berbicara. Saya tidak mengharapkan apa pun darinya. Kami juga sebelumnya tidak sering berkomunikasi,”
Ia mengakui kekecewaan mendalam atas momen tersebut, terlebih karena berdampak pada tim dalam laga penting.
“Jika kami menang meski dengan kartu merah saya, saya tetap akan merasa kecewa, tetapi tidak dengan rasa pahit sebesar ini. Tim selalu lebih utama daripada individu, dan yang benar-benar menyakitkan adalah semuanya terjadi secara bersamaan,”
Potensi Perubahan Regulasi VAR
Insiden tersebut bahkan memicu diskusi di level regulasi. IFAB dikabarkan mempertimbangkan perubahan protokol VAR agar bisa mengintervensi keputusan kartu kuning kedua, sesuatu yang saat ini tidak diizinkan.
Kalulu menyambut baik wacana tersebut.
“Aturan apa pun yang membantu sepak bola secara umum selalu diterima.”

Leave a Reply