Kabar penting datang jelang laga panas AS Roma vs Juventus pada pekan ke-27 Serie A 2025-26, Senin (2/3/2026) pukul 02.45 WIB. Matias Soulé dipastikan absen menghadapi mantan klubnya, Bianconeri.
Pelatih Roma, Gian Piero Gasperini, mengonfirmasi kondisi sang pemain dalam konferensi pers:
“Kami mengevaluasi Soulé sedikit demi sedikit. Bukan untuk pekan ini, semoga pekan depan kondisinya membaik dan ia bisa kembali berlatih secara konsisten bersama tim.”
Bagi fans Juventus, absennya Soulé jelas mengurangi ancaman. Namun pertanyaan yang lebih besar muncul: bagaimana sebenarnya performa musim ini dari winger Argentina tersebut?
Jawabannya sederhana namun kompleks, yakni brilian sekaligus inkonsisten. Sebuah musim dengan dua wajah: cahaya dan bayangan.
Statistik Soulé: Talenta Murni yang Bisa Menentukan Laga
Di Serie A dan Liga Europa, Soulé menunjukkan kapasitas sebagai pemain pembeda. Ketika dalam kondisi terbaik, ia hampir tak terbendung.
Ketika “On Fire”: Roma Menang
Beberapa laga menjadi bukti betapa pentingnya Soulé bagi Giallorossi:
- Penentu kemenangan atas Pisa (0-1)
- Gol krusial saat menang 1-2 atas Fiorentina
- Match winner kontra Cremonese (1-2), yang mengukuhkannya sebagai top skor tim
- Kontribusi besar saat mengalahkan Genoa 3-1
- Performa dominan melawan Sassuolo (2-0), dengan satu assist dan satu gol
Di kompetisi Eropa, Soulé juga menunjukkan kelasnya. Ia mengirimkan sepak pojok akurat saat Roma menang 0-3 di markas Celtic, bukti kontribusinya bukan hanya sebagai pencetak gol, tetapi juga kreator peluang.
Ciri khasnya? Dribel meliuk di sisi sayap dan gerakan cut inside ke kaki kiri, terkadang repetitif, tetapi mematikan.
Ketika Soulé menyala, Roma biasanya menang.
Sisi Gelap: Inkonsistensi dan Blackout Mengkhawatirkan
Namun di balik kilau talenta, ada sisi lain yang tak bisa diabaikan.
Momen Krusial yang Gagal
- Penalti gagal dalam kekalahan 0-1 dari Lille
- Marking lemah saat Roma takluk 1-2 dari Viktoria Plzen
- Tampil minim dampak dalam kekalahan dari Napoli, Cagliari, dan Atalanta
Dalam laga-laga besar, Soulé kerap “menghilang”. Sentuhan kurang presisi, keputusan terlambat, dan minim kontribusi defensif menjadi catatan.
Masalah Taktis: Ketergantungan pada Dybala?
Satu aspek menarik muncul pada kekalahan 1-0 dari Udinese. Ketika dimainkan lebih melebar di kanan, Soulé tampak kesulitan membangun koneksi dengan striker Donyell Malen.
Sebaliknya, chemistry alaminya jauh lebih terlihat ketika bermain dekat dengan Paulo Dybala. Kombinasi umpan pendek dan pergerakan cepat di ruang sempit membuat Soulé jauh lebih hidup.
Ini memunculkan pertanyaan: apakah performanya terlalu bergantung pada sistem tertentu dan partner spesifik?

Leave a Reply