Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, secara terbuka mengakui bahwa timnya membuat banyak keputusan keliru saat takluk 0-3 dari Atalanta di perempat final Coppa Italia 2025-26, Jum’at (6/2/2026) dini hari WIB.
Menurutnya, kekalahan telak ini bukan semata soal hasil, melainkan tentang kegagalan membaca momen krusial dalam pertandingan.
Juventus datang ke Bergamo dengan kepercayaan diri tinggi, setelah mencatatkan performa positif dan dua kali menaklukkan Atalanta di final Coppa Italia edisi 2021 dan 2024. Namun, semuanya berubah setelah insiden penalti kontroversial di babak pertama.
VAR menangkap momen ketika umpan Ederson mengenai tangan Gleison Bremer, meski para pemain Atalanta sendiri sempat tidak menyadarinya. Keputusan tersebut berujung penalti yang sukses dieksekusi Gianluca Scamacca, sekaligus mengubah arah pertandingan.
“Kami Salah, Mereka Tepat”
Usai laga, Spalletti menilai Atalanta tampil lebih efektif dalam situasi menentukan.
“Mereka lebih baik dari kami di momen-momen krusial. Saat Anda kalah 3-0, tidak banyak yang bisa dikatakan. Kami salah mengambil keputusan ketika situasi menjadi sulit, sementara mereka membuat pilihan yang tepat,” ujar Spalletti kepada Sport Mediaset.
Menurutnya, Juventus kerap terjebak dalam permainan statistik dan penguasaan bola, tetapi gagal bersikap tajam ketika pertandingan benar-benar membutuhkan keputusan cepat.
“Ada momen di mana bola terus bergerak dan permainan lebih banyak soal statistik, tetapi ketika pertandingan benar-benar menentukan, Anda harus mengambil keputusan yang tepat, cepat, dan tegas. Pada momen-momen itu, kami salah memilih,”
Masalah Lama yang Terulang
Spalletti juga menyoroti bahwa masalah ini bukan hal baru bagi Juventus musim ini. Ia menilai timnya masih kurang matang dalam membaca situasi penting.
“Ada ruang untuk melakukan serangan dua lawan satu, tapi kami malah membawa bola ke sisi lapangan. Kami kurang pengalaman untuk mengenali momen itu,” tambahnya.
Ia menilai karakter sebagian pemain belum sepenuhnya mendukung permainan agresif dan efektif di area berbahaya. Akibatnya, Juventus sering kehilangan fokus di saat paling menentukan.
“Juga ada karakteristik dari beberapa pemain yang memang ada atau tidak ada. Kami tampaknya belum memiliki ketajaman dan fokus yang jernih di momen-momen penentuan. Hal seperti ini memang bisa terjadi,”
Pemain Pengganti Tak Memberi Dampak
Dengan kedalaman skuad yang dimiliki, Juventus diharapkan mampu meningkatkan intensitas permainan lewat pergantian pemain. Namun, harapan itu tidak terwujud.
Justru Atalanta yang tampil lebih efektif melalui pemain pengganti mereka, yakni Kamaldeen Sulemana dan Mario Pasalic, yang sama-sama mencetak gol.
“Naik level juga bergantung pada bagaimana tim berlatih. Kami adalah satu tim, tapi harus belajar mengenali momen yang bisa menentukan hasil pertandingan,” jelas Spalletti.
Ia bahkan menyebut skor 0-3 tidak sepenuhnya mencerminkan jalannya laga, mengingat Juventus juga menciptakan sejumlah peluang.
“Kami kalah 3-0, jadi memang terdengar aneh jika mengatakan para pemain sudah bekerja keras dan tampil bagus,”
Kehilangan Organisasi di Akhir Laga
Hal lain yang disesalkan Spalletti adalah runtuhnya struktur permainan di menit-menit akhir.
“Di penghujung laga, kami bermain sendiri-sendiri, kehilangan organisasi, dan kehilangan kekompakan,” katanya.
Menurutnya, keinginan mencetak gol balasan justru membuat tim kehilangan identitas permainan.
Respons Soal Penalti Kontroversial
Saat ditanya tentang penalti yang menjadi awal petaka, Spalletti memilih bersikap netral.
“Itu penalti karena bola menyentuh tangan. Saya lebih tertarik pada hal lain.”

Leave a Reply