Juventus kembali menunjukkan karakter pantang menyerah saat menahan Lazio dengan skor 2-2 dalam laga dramatis pekan ke-24 Serie A 2025-26 di Allianz Stadium, Senin (9/2/2026) dini hari WIB.
Namun alih-alih puas, perasaan yang justru mendominasi ruang ganti Bianconeri adalah kemarahan dan frustrasi, bukan kelegaan. Hal itu diakui langsung oleh Teun Koopmeiners, yang menilai Juventus masih jauh dari kata seimbang.
Bangkit dari Ketinggalan, Tapi Tak Puas
Juventus sempat berada di ambang kekalahan setelah Lazio unggul 2-0 lewat gol Pedro dan Gustav Isaksen.
Situasi tersebut membuat publik Turin terdiam. Namun dua sundulan Weston McKennie dan Pierre Kalulu—yang terakhir tercipta di menit ke-96—menyelamatkan satu poin berharga bagi Juve.
Meski berhasil bangkit dari situasi sulit, ekspresi para pemain Juventus usai laga justru menunjukkan ketidakpuasan. Mereka merasa hasil imbang ini seharusnya bisa dihindari.
Koopmeiners: “Kami Marah, Bukan Lega”
Dalam wawancara bersama DAZN Italia, Koopmeiners mengungkapkan isi hati skuad Juventus.
“Kami marah, karena sebenarnya kami punya banyak peluang untuk mencetak gol, tetapi kami kurang tajam di sentuhan akhir dan tidak cukup presisi dalam penyelesaian,” ujar gelandang asal Belanda tersebut.
Statistik pun memperkuat pernyataannya. Juventus melepaskan 33 tembakan, berbanding hanya 8 milik Lazio. Dominasi itu sayangnya tak berbanding lurus dengan efektivitas.
Menyerang Tanpa Henti, Tapi Rentan di Belakang
Koopmeiners juga menyoroti pendekatan bermain Juventus yang sangat ofensif. Filosofi menyerang ini memang menghibur, tetapi menyimpan risiko besar jika tidak diimbangi organisasi bertahan yang solid.
“Kami ingin terus menyerang, dan saya menyukainya. Pelatih juga menyukai pendekatan ini. Fans terhibur. Tapi kami harus lebih baik dalam bertahan, terutama saat transisi dan antisipasi serangan balik,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Juventus kerap terlambat kembali ke posisi saat kehilangan bola, membuat lini belakang terekspos.
Masalah Konsentrasi dan Komunikasi
Menurut Koopmeiners, solusi dari masalah ini bukan hanya soal taktik, melainkan juga detail kecil di lapangan.
“Kami butuh lebih banyak konsentrasi dan komunikasi, baik saat bertahan maupun menyerang. Dari pertandingan ini, jelas kami harus berkembang.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Juventus menyadari titik lemah mereka, dan itu menjadi pekerjaan rumah penting jelang laga-laga krusial berikutnya.
Gol Koopmeiners yang Dianulir
Koopmeiners sebenarnya sempat mencatatkan namanya di papan skor saat kedudukan masih 0-0. Namun gol tersebut dianulir karena Khephren Thuram berada dalam posisi offside dan dianggap mengganggu permainan.
“Saya pikir itu momen yang bagus, kami seharusnya sudah unggul 1-0, tetapi saya tidak melihat Thuram, saya hanya mencoba menembak melewati kaki pemain. Saya pikir itu kaki bek, bukan Thuram,”
Keputusan itu menjadi salah satu momen yang menambah rasa frustrasi Juventus malam itu.

Leave a Reply