Spalletti Kritik Juventus Usai Dibantai Galatasaray 5-2: “Kami Mundur Tiga Langkah, Selalu Berisiko Kebobolan”

Kekalahan telak 2-5 dari Galatasaray di leg pertama play-off Liga Champions 2025-26 menjadi pukulan berat bagi Juventus. Pelatih Luciano Spalletti tak mencari alasan dan secara terbuka mengakui timnya mengalami kemunduran besar.

Menurutnya, performa di Istanbul bukan sekadar satu langkah mundur, melainkan tiga langkah sekaligus.

Dari Unggul 2-1 ke Hancur Lebur

Juventus sebenarnya tampil menjanjikan di babak pertama. Setelah tertinggal oleh gol Gabriel Sara, Bianconeri bangkit lewat brace Teun Koopmeiners dan menutup 45 menit pertama dengan keunggulan 2-1.

Namun segalanya berubah drastis di babak kedua.

Masuknya Juan Cabal menggantikan Andrea Cambiaso, yang sudah mengantongi kartu kuning justru menjadi titik awal bencana. Cabal melakukan dua kesalahan fatal yang berujung gol, lalu menerima kartu merah. Juventus pun bermain dengan 10 orang dan kehilangan kendali pertandingan.

Galatasaray menghukum mereka tanpa ampun lewat dua gol Noa Lang, serta tambahan gol Davinson Sanchez dan Sacha Boey.

Spalletti: “Bukan Satu Langkah Mundur, Tapi Tiga”

Dalam wawancara dengan Sky Sport Italia, Spalletti tidak menahan kritiknya.

“Kami menutup babak pertama dengan buruk. Kami mencoba untuk kembali ke performa terbaik, tapi secara karakter kami benar-benar menurun,” ujar Spalletti.

“Ini bukan satu langkah mundur, tapi tiga langkah mundur malam ini,”

Ia mengakui keputusan mengganti Cambiaso adalah langkah preventif yang masuk akal, tetapi situasi justru memburuk.

“Jelas, Cambiaso berisiko mendapatkan kartu kuning kedua di akhir babak pertama, dalam pertandingan seperti ini ketika Anda memiliki seseorang yang sudah mendapatkan kartu, bijaksana untuk melakukan sesuatu dengan pergantian pemain,”

“Namun, kami menerima dua kartu kuning lagi dalam 15 menit pertama, kemudian kami semakin merugikan diri sendiri dengan tidak mengenali bahaya dalam situasi tersebut,”

Masalah Kronis: Terlalu Mudah Kebobolan

Pertanyaan besar muncul: apakah Juventus memang punya masalah pertahanan, terutama di kompetisi Eropa?

Spalletti menjawab dengan analisis taktis yang tajam.

“Saya yakin kami bisa meringankan beban pertahanan jika mampu bermain sepak bola dengan baik. Jika kami hanya bertahan dan mengandalkan serangan balik, kami tidak punya profil pemain yang cocok untuk pendekatan itu,”

Menurutnya, Juventus tidak cukup solid untuk sekadar bertahan total.

“Serangan adalah bentuk pertahanan terbaik. Jika kualitas permainan kami turun, maka kami selalu berisiko kebobolan,”

Pernyataan ini menegaskan filosofi Spalletti: Juventus harus berani mengontrol permainan, bukan bersembunyi di belakang.

Kesalahan Build-Up Jadi Sumber Petaka

Gol pertama, keempat, dan kelima Galatasaray lahir dari kesalahan saat membangun serangan dari belakang. Hal ini memunculkan pertanyaan: apakah lebih baik bek langsung membuang bola saat ditekan?

Spalletti memberikan jawaban seimbang.

“Saya ingin mereka memainkan bola dalam situasi normal. Tapi saat bahaya ekstrem, tendang saja. Tidak semua situasi sama,”

Ia mengakui bahwa kehilangan bola di area berbahaya menjadi faktor utama kehancuran timnya.

Tantangan Berat di Leg Kedua

Dengan agregat 2-5, Juventus membutuhkan kemenangan minimal 3-0 di leg kedua untuk memaksakan perpanjangan waktu. Sebuah misi yang sangat berat, tetapi belum mustahil.

“Tentu kami akan mencoba mendaki gunung itu. Tapi mulai sekarang, kata-kata tidak berarti apa-apa jika tidak dibarengi tindakan,”

Spalletti juga menegaskan tanggung jawab moral tim kepada suporter, kota, dan klub.

Kekhawatiran Tambahan: Kondisi Bremer

Masalah Juventus tak berhenti pada skor. Bek andalan Gleison Bremer harus keluar karena cedera otot.

“Kami harus mengevaluasi kondisi Bremer, mungkin ada masalah.”

Jika cedera tersebut serius, maka lini belakang Juventus akan semakin rapuh di leg kedua.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*