Spalletti: “Lawan Sejati Juventus Adalah Diri Kami Sendiri, Kami Kurang Percaya Diri”

Krisis performa tengah menghantui Juventus. Kekalahan 0-2 dari Como di pekan ke-26 Serie A 2025-26 menjadi tamparan keras bagi Bianconeri. Dalam lima laga kompetitif terakhir, Juventus hanya mampu meraih satu hasil imbang, sebuah catatan yang menegaskan bahwa masalah mereka bukan sekadar teknis, tetapi juga mental.

Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, secara terbuka mengakui bahwa problem utama timnya saat ini terletak pada aspek psikologis. Ia menyebut bahwa “lawan sesungguhnya Juventus adalah diri mereka sendiri.”

Kekalahan dari Como: Cermin Rapuhnya Mentalitas

Melawan Como di Turin, Juventus kembali memperlihatkan kelemahan mendasar. Gol dari Mergim Vojvoda dan Maxence Caqueret lahir dari kesalahan sendiri: mulai dari miskomunikasi lini belakang hingga kelengahan penjaga gawang Michele Di Gregorio di tiang dekat.

Spalletti tidak mencari kambing hitam.

“Ketika Anda kebobolan lebih dulu untuk ke-13 kalinya musim ini, cepat atau lambat Anda akan membayar mahal,” ujar Spalletti.

Statistik tersebut menjadi alarm keras. Kebobolan dari tembakan pertama lawan sebanyak 13 kali dalam satu musim adalah indikasi kurangnya konsentrasi sejak menit awal, sesuatu yang sangat krusial dalam persaingan papan atas Serie A.

Krisis Kepercayaan Diri Jadi Akar Masalah

Menurut Spalletti, ada fase di mana Juventus tampil penuh antusiasme dan percaya diri. Namun ketika kepercayaan diri itu memudar, tim sering melakukan kesalahan kecil yang menjadi fatal.

Ia menyoroti bagaimana tekanan hasil buruk membuat para pemain seperti “terjebak” secara mental.

Umpan-umpan sederhana yang biasanya akurat kini sering melenceng. Koordinasi lini belakang menjadi goyah. Keputusan di momen krusial terasa ragu-ragu.

“Ini semua tentang kepercayaan diri. Kami harus yakin bahwa kami punya kualitas untuk bangkit,”

“Tetapi ketika rasa percaya diri dan otoritas itu hilang… saya melihat umpan-umpan salah yang biasanya tidak pernah dilakukan oleh para pemain saya. Itu bukan sesuatu yang biasa terjadi, dan mereka merasa terjebak oleh situasi tersebut,”

Spalletti menegaskan bahwa tanggung jawab harus dibagi rata. Ia membela Di Gregorio, menyatakan bahwa kesalahan individu hanyalah bagian dari masalah kolektif yang lebih besar.

“Di Gregorio tidak memiliki tanggung jawab lebih besar dibandingkan rekan-rekan setimnya. Dia memang melakukan kesalahan, sama seperti umpan balik yang ceroboh dalam proses build-up juga merupakan kesalahan. Semua orang seharusnya bisa bertahan lebih baik dalam situasi itu, tidak kehilangan bola dengan mudah. Tanggung jawab harus selalu dibagi bersama,”

Lawan Sejati Juventus Adalah Diri Kami Sendiri

Situasi Juventus semakin kompleks. Pada Kamis mendatang (26/2), mereka harus membalikkan defisit 5-2 dari Galatasaray di leg 2 play-off Liga Champions, lalu bertandang ke markas AS Roma di Serie A.

Beberapa pemain juga absen karena cedera dan skorsing, termasuk Pierre Kalulu, Gleison Bremer, Dusan Vlahovic, dan Manuel Locatelli yang akan absen di laga kontra Roma.

Dengan jadwal padat dan tekanan besar dari publik sendiri, mentalitas skuad akan benar-benar diuji.

“Lawan kami dalam hal ini adalah diri kami sendiri. Jika kami bisa memperbaiki beberapa hal dari sisi psikologis dan teknis, maka kami bisa berbicara banyak. Jika ini adalah level kami, maka kami akan kalah dan tidak bisa memiliki ambisi untuk meraih hasil apa pun,” aku Spalletti.

Pernyataan itu menjadi refleksi keras bagi ruang ganti Juventus. Secara kualitas individu, skuad ini tidak kekurangan talenta. Namun tanpa fondasi psikologis yang kuat, potensi tersebut sulit diwujudkan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*