
Laga panas Derby della Mole antara Torino vs Juventus di pekan ke-38 Serie A 2025-26 berakhir dengan drama besar, baik di dalam maupun luar lapangan.
Pertandingan yang berakhir imbang 2-2 itu tidak hanya menyoroti comeback Torino, tetapi juga memunculkan kritik tajam dari pelatih Juventus, Luciano Spalletti, terkait mentalitas tim dan situasi di sekitar pertandingan.
Juventus sendiri menutup musim Serie A 2025/26 di posisi keenam, hanya cukup untuk tiket Liga Europa, sebuah hasil yang jelas jauh dari ekspektasi klub besar Turin tersebut.
Spalletti: Juventus Kekurangan Karakter
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Luciano Spalletti menegaskan bahwa masalah utama Juventus musim ini bukan hanya soal taktik atau teknik, tetapi juga mentalitas.
Menurutnya, pemain yang tidak memiliki karakter kuat tidak akan mampu bertahan di klub sebesar Juventus.
Ia menekankan bahwa:
- Karakter menjadi faktor pembeda utama di level tertinggi
- Kesalahan bukan hanya soal teknis, tetapi juga mental
- Konsistensi sikap sangat penting dalam setiap pertandingan
Spalletti juga menyebut bahwa pemain harus mampu bermain dengan mental yang sama, apa pun lawannya, tanpa dipengaruhi tekanan atau keraguan.
“Saya pikir karakter selalu menjadi pembeda. Terkadang, kepribadian juga menyatu. Itu sama pentingnya dengan kekuatan fisik dan teknik. Mentalitas seorang pesepak bola tidak boleh mengubah cara berpikirnya saat menghadapi tim tertentu. Dia bisa menang atau kalah, tetapi harus selalu memiliki sikap yang sama,” ujar Spalletti kepada Sky Sport Italia.
Kritik Tajam: “Kalau Penuh Keraguan, Tidak Cukup untuk Juventus”
Spalletti secara terbuka menyoroti masalah kepercayaan diri di dalam skuadnya. Ia menilai bahwa terlalu banyak keraguan dalam mengambil keputusan di lapangan membuat performa tim tidak stabil.
Menurutnya:
- Keraguan berlebihan harus dihilangkan
- Pemain harus berani mengambil keputusan
- Juventus membutuhkan mentalitas pemenang yang konsisten
Ia bahkan menyebut bahwa Juventus membutuhkan pemain dengan karakter kuat karena itulah yang membedakan klub besar dengan tim biasa.
“Semua orang punya keraguan saat akan tampil di lapangan. Ketika kamu terus terikat pada keraguan itu, kamu menjadi ragu-ragu, jadi kamu harus melepaskannya dan mengambil keputusan. Itu solusinya. Semua orang punya keraguan, tetapi keputusan harus dibuat. Jika terlalu banyak keraguan, berarti tidak cukup memiliki karakter, dan kamu tidak bisa bermain untuk Juventus karena itulah yang menjadi pembeda,”
“Kamu tidak bisa mengajarkan kepribadian. Taktik dan teknik bisa diajarkan, tetapi karakter sangat sulit dipelajari. Kami mengalami naik turun,”
Spalletti Ingin Juve Beli Pemain Bermental Kuat
Spalletti juga mengonfirmasi bahwa dirinya sudah berdiskusi dengan manajemen klub mengenai kebutuhan skuad untuk musim depan bersama Damien Comolli.
Fokus utama Juventus adalah:
- Mencari pemain dengan mentalitas kuat
- Menambah kualitas karakter di ruang ganti
- Menutup celah inkonsistensi musim ini
Menurut Spalletti, kualitas teknik saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kekuatan mental.
“Hal-hal ini sudah kami bicarakan dengan Comolli dan pihak lainnya. Kami membutuhkan pemain yang bisa meningkatkan level kepribadian tim. Itulah sebabnya kadang kami bermain sangat bagus, tetapi di lain waktu kami jatuh begitu saja,”
Soroti Pernyataan Kontroversial Torino
Selain membahas timnya, Spalletti juga melontarkan kritik keras terhadap situasi di luar lapangan jelang derby.
Ia menyinggung pernyataan dari pihak Torino yang sempat memperingatkan pendukung agar tidak membawa atribut Juventus ke stadion.
Spalletti menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang berlebihan dan tidak seharusnya terjadi di sepak bola modern.
Tragedi Suporter dan Suasana Panas Derby
Laga ini juga diwarnai insiden serius di luar stadion:
- Bentrokan antar ultras kedua tim
- Seorang suporter Juventus dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis
- Suasana stadion sempat kosong sebagian setelah sebagian fans Juventus meninggalkan tribun
Kondisi ini membuat atmosfer derby semakin tegang dan emosional.

Leave a Reply