Tampil di Europa League Bisa Jadi “Masa Pemulihan” untuk Kebangkitan Juventus

Musim 2025/26 menjadi periode penuh evaluasi bagi Juventus. Setelah menutup Serie A di posisi keenam, Bianconeri dipastikan harus berlaga di Liga Europa musim depan.

Hasil ini datang setelah mereka hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Torino di Derby della Mole, yang sekaligus menegaskan inkonsistensi sepanjang musim.

Kegagalan lolos ke Liga Champions menjadi sinyal kuat bahwa Juventus sedang berada dalam fase transisi besar, baik dari sisi teknis maupun mental.

Musim Penuh Inkonsistensi Juventus

Sepanjang musim, Juventus tidak mampu menjaga performa stabil. Mereka kerap menunjukkan dua wajah berbeda:

  • Terkadang tampil dominan dan meyakinkan
  • Namun sering kehilangan poin di laga-laga penting

Inkonsistensi inilah yang membuat mereka gagal bersaing di papan atas dan akhirnya harus puas finis di luar empat besar Serie A.

Europa League Jadi Kesempatan Baru

Meski dianggap sebagai kemunduran, tampil di Liga Europa justru bisa menjadi momentum penting bagi Juventus untuk membangun ulang fondasi tim.

Kompetisi ini dapat memberikan:

  • Jam terbang di level Eropa
  • Kesempatan mengembangkan pemain muda
  • Ruang untuk membangun kembali mental juara
  • Stabilitas performa sepanjang musim

Dengan kata lain, Europa League bisa menjadi “fase pemulihan” sebelum kembali ke Liga Champions.

Giuseppe Falci: Europa League Bisa Jadi “Obat” untuk Juventus

Jurnalis Corriere della Sera, Giuseppe Falci, memberikan pandangannya terkait situasi Juventus melalui media sosial X.

Ia menilai bahwa musim di Europa League bisa menjadi sesuatu yang “bermanfaat” bagi Juventus untuk proses kebangkitan.

Menurut Falci:

  • Juventus membutuhkan “tahun pemulihan” setelah krisis performa
  • Klub sering bangkit setelah mengalami guncangan besar
  • Namun absennya Juventus dan Milan di Liga Champions menunjukkan krisis serius sepak bola Italia

“Juventus di Liga Europa. Bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi ‘Si Nyonya Tua’ untuk menjalani satu tahun di masa pemulihan. Di sisi lain, kebangkitan kembali Si Nyonya Tua selalu terjadi setelah sebuah guncangan,” tulisnya.

Sorotan untuk Sepak Bola Italia

Falci juga menyoroti fakta lebih besar di balik kegagalan Juventus, yaitu kondisi sepak bola Italia secara keseluruhan.

Absennya dua klub besar, yakni Juventus dan AC Milan dari Liga Champions dianggap sebagai indikator penurunan daya saing Serie A di level Eropa.

Menurutnya, dua klub ini selama puluhan tahun menjadi:

  • Pilar utama Serie A
  • Representasi Italia di kompetisi Eropa
  • Simbol dominasi sepak bola Italia

“Namun demikian, Juventus dan Milan yang gagal lolos ke Liga Champions, lebih dari apa pun menggambarkan krisis dalam sepak bola Italia. Karena kedua tim ini adalah yang paling berpengaruh di Italia dan Eropa dalam 40 tahun terakhir.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*