Comolli Kesal Soal Wasit, Tegaskan Pentingnya Pertahankan Spalletti

Damien Comolli

CEO Juventus, Damien Comolli angkat bicara untuk pertama kalinya setelah kekalahan dramatis dari Galatasaray di babak play-off Liga Champions 2025-26.

Dalam forum Financial Times Football Summit, Comolli tampil emosional namun tetap tegas: kekecewaan mendalam, kritik terhadap keputusan wasit, dan komitmen kuat menjaga stabilitas klub menjadi pesan utamanya.

Kekalahan tersebut tak hanya menyakitkan secara hasil, tetapi juga menyisakan kontroversi yang menurutnya akan sulit dilupakan dalam waktu dekat.

Butuh Bertahun-Tahun untuk Melupakannya

Comolli mengakui bahwa tersingkirnya Juventus adalah luka yang akan membekas lama.

“Butuh bertahun-tahun bagi saya untuk melupakannya,” ucap Comolli.

Kekalahan dari Galatasaray dianggap sebagai momen yang menghancurkan harapan comeback luar biasa Bianconeri. Terlebih lagi, insiden kartu merah Lloyd Kelly menjadi titik balik yang menurut Comolli sangat merugikan timnya.

Ia secara terbuka mempertanyakan penunjukan wasit dalam laga sebesar itu.

“Ada keputusan wasit yang sangat mengecewakan,”

“Saya tidak mengerti bagaimana untuk pertandingan sebesar ini mereka menunjuk wasit yang baru memimpin sepuluh laga Liga Champions sepanjang kariernya,”

Baginya, kartu merah tersebut “bukan kartu merah” dan keputusan itu secara efektif mengakhiri perjalanan Juventus di Eropa musim ini.

“Kartu merah yang sangat mengecewakan lagi, yang sebenarnya bukan kartu merah, dan kami akhirnya tersingkir dari Liga Champions. Pertandingan itu akan menyakitkan selama bertahun-tahun,”

Kritik Keras, Tapi Tetap Rasional

Meski emosinya terlihat jelas, Comolli menegaskan bahwa satu pertandingan tidak boleh mengubah arah strategi klub.

Menurutnya, Juventus harus tetap berpegang pada pendekatan berbasis data dalam mengambil keputusan.

“Kami dibayar untuk menciptakan emosi, tetapi saat membuat keputusan, kami tidak boleh emosional,”

Pernyataan ini menegaskan filosofi manajemen modern yang ingin ia tanamkan: rasionalitas di tengah tekanan besar dan ekspektasi global.

Kunci Kebangkitan: Pertahankan Luciano Spalletti

Di tengah spekulasi mengenai masa depan pelatih, Comolli secara tegas menyatakan pentingnya mempertahankan Luciano Spalletti.

“Jika harus menjawab hari ini, saya akan mengatakan kontinuitas. Penting untuk mempertahankan pelatih yang sama, strategi yang sama, gaya bermain yang sama,”

Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, Juventus telah berganti pelatih berkali-kali. Comolli percaya bahwa di bawah Spalletti, tim mulai menemukan identitasnya kembali.

Stabilitas, menurutnya, adalah fondasi untuk kembali bersaing di puncak Eropa.

Dukungan Penuh dari John Elkann dan Keluarga Agnelli

Comolli juga menegaskan bahwa pemilik klub, John Elkann, tidak memiliki niat sedikit pun untuk menjual Juventus.

Keluarga Agnelli family telah memiliki Juventus sejak 1923, menjadikannya salah satu kepemilikan terlama dalam sejarah olahraga dunia.

“John sudah sangat jelas, dia tidak akan pernah menjual klub ini,”

Elkann bahkan hadir langsung di ruang ganti usai pertandingan untuk berterima kasih kepada para pemain dan staf pelatih—bukti keterlibatan emosional dan strategisnya.

Beban 575 Juta Fans di Seluruh Dunia

Di akhir pernyataannya, Comolli memberikan gambaran betapa besar tanggung jawab yang ia rasakan.

Dengan 575 juta penggemar global dan 200 juta pengikut media sosial, Juventus bukan sekadar klub, ia adalah institusi raksasa.

“Saya tidur memikirkan Juventus, bermimpi tentang Juventus, bangun dengan Juventus.”

Ambisinya jelas: membawa klub kembali ke level tertinggi sepak bola Eropa, dengan fondasi yang kokoh dan keputusan yang matang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*